Kehidupan

Area di Jogja yang Sering Jadi Tujuan Slow Living: Dari Bantul sampai Kaliurang

Oleh Ade Reza Soetomo 5 menit baca

Area di Jogja yang Sering Jadi Tujuan Slow Living: Dari Bantul sampai Kaliurang

Tidak semua sudut Jogja punya suasana yang sama. Ada area yang ramai hampir 24 jam karena mahasiswa dan tempat nongkrong, tapi ada juga wilayah yang justru dicari orang karena lebih tenang, hijau, dan terasa pelan.

Semakin lama tinggal di Jogja, aku sadar satu hal: lokasi tempat tinggal sangat menentukan cara orang menjalani hidup di kota ini.

Belakangan, semakin banyak orang memilih area tertentu di Jogja bukan cuma karena murah atau dekat kampus, tapi karena mencari ritme hidup yang lebih seimbang. Ada yang tetap ingin dekat kafe dan coworking space. Ada juga yang mulai mencari rumah dengan halaman, kebun kecil, atau suasana yang masih dekat dengan sawah.

Dan menariknya, Jogja masih punya semuanya.


Tidak Semua Area Jogja Cocok untuk Slow Living

Meski Jogja sering dianggap kota yang santai, kenyataannya tidak semua wilayah punya ritme hidup yang sama.

Beberapa area sekarang terasa semakin urban: ramai hampir sepanjang hari, dipenuhi coffee shop, lalu lintas makin padat, dan kehidupan sosial bergerak lebih cepat dibanding dulu.

Tapi di sisi lain, masih ada wilayah yang suasananya lebih longgar, ritme hidupnya lebih pelan, dan terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal.

Karena itu, pengalaman tinggal di Jogja bisa sangat berbeda tergantung kamu tinggal di mana.


Sleman: Slow Living Versi Urban

Kalau bicara soal kehidupan modern di Jogja, Sleman hampir selalu jadi pusatnya.

Area seperti Seturan, Gejayan, Condongcatur, Babarsari, dan Jalan Kaliurang dipenuhi kampus, kos, coffee shop, coworking space, gym, sampai tempat nongkrong yang hidup hampir 24 jam.

Hampir semua kampus besar maupun kecil di Jogja juga berada di Sleman atau berbatasan langsung dengannya. Karena itu, wilayah ini terasa sangat hidup dan terus bergerak.

Buat banyak orang muda, terutama mahasiswa, freelancer, pekerja remote, dan kreator digital, Sleman terasa nyaman karena semuanya serba dekat dan praktis.

Menariknya, sebagian orang juga tetap menganggap gaya hidup di Sleman sebagai bentuk slow living modern. Bukan karena suasananya sepi, tapi karena mereka bisa bekerja lebih fleksibel, nongkrong tanpa tekanan kota besar, dan punya work-life balance yang terasa lebih sehat dibanding kota metropolitan.

Tapi tentu saja, slow living versi Sleman lebih urban.

Karena beberapa area sekarang mulai terasa lebih padat, lebih macet, dan semakin kompetitif dibanding Jogja beberapa tahun lalu.


Bantul: Slow Living yang Masih Dekat Kota

Kalau Sleman terasa urban dan aktif, Bantul punya ritme yang berbeda.

Area seperti Kasihan, Sewon, Bangunjiwo, sampai sekitar Jalan Parangtritis bagian selatan masih terasa lebih longgar dibanding pusat kota atau kawasan mahasiswa.

Di beberapa sudut Bantul, kamu masih mudah menemukan sawah, jalan kampung yang tenang, rumah dengan halaman luas, dan suasana yang tidak terlalu terburu-buru.

Makanya cukup banyak orang yang awalnya tinggal di Sleman akhirnya pindah ke Bantul karena mencari hidup yang lebih pelan.

Apalagi sekarang banyak pekerjaan bisa dilakukan secara remote.

Bantul juga mulai menarik buat orang-orang yang ingin menjalani slow living yang lebih membumi. Bukan sekadar nongkrong santai, tapi benar-benar mencoba hidup lebih sederhana.

Ada yang mulai berkebun kecil di rumah, menanam sayur sendiri, memelihara ayam, atau mencari rumah dengan lahan lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada ritme kota.

Dan menariknya, gaya hidup seperti itu masih cukup realistis dilakukan di beberapa area Bantul karena suasananya belum terlalu urban.

Tapi di saat yang sama, akses ke pusat kota masih relatif dekat.

Karena itu, Bantul sering terasa seperti titik tengah: tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu jauh dari fasilitas kota.


Kaliurang dan Utara Sleman: Adem dan Lebih Dekat Alam

Kalau Bantul terasa hangat dan sosial, area utara Sleman punya karakter yang berbeda.

Wilayah seperti Kaliurang, Pakem, Cangkringan, dan sekitar lereng Merapi lebih identik dengan udara adem, suasana alam, dan ritme hidup yang lebih lambat.

Beberapa tahun terakhir, area ini mulai banyak dilirik orang yang ingin tinggal dekat alam tanpa benar-benar jauh dari kota.

Karena lahannya masih relatif luas, sebagian orang mulai mencoba hidup semi-rural: berkebun, membuat hidroponik kecil, memelihara hewan, atau membangun rumah yang tidak terlalu berhimpitan dengan tetangga.

Banyak juga pekerja remote yang memilih tinggal di area ini karena suasananya terasa lebih tenang untuk bekerja dan hidup sehari-hari.

Tapi tentu ada konsekuensinya. Jarak ke pusat kota lebih jauh, kendaraan pribadi lebih penting, dan fasilitas tidak sebanyak area tengah Jogja.

Meski begitu, buat sebagian orang, justru itu yang dicari.


Kulon Progo: Slow Living yang Paling Pelan

Kalau Bantul masih dekat kota dan Kaliurang mulai berkembang wisata, Kulon Progo punya suasana yang jauh lebih lambat.

Beberapa area masih terasa sangat agraris, terutama di sekitar Perbukitan Menoreh, jalur pedesaan, sawah, dan area menuju pantai selatan.

Ritme hidup di sini jauh lebih tenang dibanding pusat Jogja.

Karena itu, Kulon Progo mulai dilirik orang-orang yang benar-benar ingin menjauh dari hiruk-pikuk kota.

Bukan cuma mencari work-life balance, tapi mencoba hidup yang lebih sederhana dan mandiri.

Di beberapa area, masih cukup umum melihat kebun rumahan, pekarangan luas, ternak kecil, dan aktivitas sehari-hari yang lebih dekat dengan alam.

Tapi tentu saja, gaya hidup seperti ini tidak cocok untuk semua orang.

Karena dibanding wilayah lain, akses lebih jauh, fasilitas lebih terbatas, pilihan nongkrong lebih sedikit, dan ritme hidup terasa jauh lebih lambat.

Buat sebagian orang itu membosankan.

Tapi buat yang memang mencari ketenangan, justru itu daya tarik utamanya.


Kota Jogja: Praktis, Tapi Tidak Lagi Sepelan Dulu

Kalau ingin tinggal dekat pusat aktivitas, Kota Jogja masih jadi pilihan menarik.

Area sekitar Tugu, Malioboro, Kotabaru, sampai pusat kota lama punya akses yang sangat praktis. Mau cari makan, nongkrong, atau jalan malam semuanya dekat.

Tapi dibanding dulu, ritme hidup di pusat kota sekarang terasa jauh lebih cepat.

Wisata terus berkembang, kendaraan makin ramai, dan ruang kosong semakin sedikit.

Meski begitu, beberapa area seperti Kotagede atau kampung-kampung tua tertentu masih punya suasana Jogja lama yang lebih pelan dan akrab.

Karena itu, Kota Jogja sekarang terasa seperti perpaduan antara kota wisata yang makin urban dan sisa-sisa suasana lama yang masih bertahan.


Slow Living di Jogja Tidak Selalu Berarti Tinggal di Desa

Menurutku, ini bagian yang menarik.

Karena slow living di Jogja ternyata punya banyak bentuk.

Ada yang memilih tinggal di Sleman dekat coffee shop dan coworking space, bekerja remote sambil nongkrong santai, dan menikmati work-life balance versi urban.

Tapi ada juga yang memilih pindah ke Bantul atau Kulon Progo, tinggal dekat sawah, berkebun kecil, dan hidup lebih dekat dengan alam.

Artinya, slow living bukan cuma soal tinggal di tempat sepi.

Tapi soal mencari ritme hidup yang terasa paling cocok untuk diri sendiri.

Dan mungkin itu alasan kenapa semakin banyak orang datang ke Jogja: karena kota ini masih punya banyak versi kehidupan yang berbeda dalam satu daerah.

Artikel Terkait

Tag:

  • Slow Living Jogja
  • Jogja
  • Tinggal di Jogja
  • Bantul
  • Kaliurang
  • Kulon Progo
  • Kehidupan Jogja
  • Work From Jogja
  • Budaya Jogja
  • Perantau di Jogja
  • Slow Living Indonesia
  • Area Tenang di Jogja