Kehidupan

Slow Living di Jogja : Saat Banyak Orang Mulai Lelah dengan Hidup yang Terlalu Cepat

Oleh Ade Reza Soetomo 5 menit baca

Slow Living di Jogja : Saat Banyak Orang Mulai Lelah dengan Hidup yang Terlalu Cepat

Slow Living di Jogja: Kenapa Banyak Orang Mulai Memperlambat Hidup di Sini?

Beberapa tahun terakhir, ada semakin banyak orang yang pindah ke Jogja bukan untuk kuliah atau liburan, tetapi untuk mencari hidup yang terasa lebih tenang. Mereka lelah dengan ritme kota besar yang serba cepat, tekanan kerja yang terus berjalan, dan kehidupan yang terasa seperti selalu dikejar waktu.

Di tengah situasi itu, Jogja mulai dilihat sebagai tempat yang cocok untuk menjalani slow living. Bukan karena kotanya sempurna, tetapi karena Jogja masih punya ritme hidup yang terasa lebih manusiawi dibanding banyak kota besar lain.

Fenomena ini juga perlahan mengubah wajah beberapa kawasan di Jogja. Di banyak kampung pinggiran kota, mulai muncul cluster perumahan baru yang sebagian besar penghuninya adalah pendatang, terutama pekerja remote, pasangan muda, atau orang-orang yang memilih pindah dari kota besar untuk mencari hidup yang lebih tenang.

Apa Itu Slow Living?

Secara sederhana, slow living adalah gaya hidup yang lebih sadar dan tidak terus-menerus terburu-buru. Konsep ini bukan tentang hidup malas atau tidak punya ambisi, melainkan tentang menjalani hidup dengan ritme yang lebih sehat dan seimbang.

Banyak orang mulai merasa lelah dengan budaya yang menuntut produktivitas terus-menerus. Akibatnya, muncul keinginan untuk hidup lebih sederhana, punya waktu istirahat yang cukup, dan menikmati hal-hal kecil yang sebelumnya sering terlewat.

Karena itu, slow living sekarang cukup populer di kalangan pekerja remote, freelancer, kreator digital, sampai orang-orang yang mulai burnout dengan kehidupan urban.

Kenapa Jogja Dianggap Cocok untuk Slow Living?

Kalau dibanding kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, suasana Jogja memang terasa berbeda. Hidup di sini cenderung tidak terlalu agresif. Orang masih bisa nongkrong lama tanpa merasa bersalah, menikmati kopi sambil ngobrol berjam-jam, atau duduk santai di angkringan sampai malam tanpa tekanan untuk selalu produktif.

Budaya sosial seperti ini membuat banyak pendatang merasa lebih tenang. Setelah lama hidup dalam ritme cepat, Jogja terasa seperti kota yang memberi ruang untuk bernapas.

Hal ini juga berkaitan dengan budaya santai masyarakat Jogja yang membuat banyak pendatang betah. Di banyak sudut kota, hidup masih terasa lebih cair dan tidak terlalu kompetitif.

Slow Living di Jogja Tidak Selalu Berarti Tinggal di Tengah Kota

Menariknya, tren slow living di Jogja justru lebih banyak berkembang di area pinggiran dibanding pusat kota. Banyak orang mulai mencari tempat tinggal yang lebih tenang seperti Bantul, Kaliurang, atau Kulon Progo karena suasananya masih lebih hijau dan ritmenya lebih pelan.

Di Bantul misalnya, masih banyak area dengan sawah, jalan kampung yang tidak terlalu ramai, dan lingkungan yang terasa lebih santai. Karena itu, wilayah ini cukup populer untuk pasangan muda, pekerja remote, atau orang-orang yang mulai ingin menjauh dari hiruk-pikuk kawasan mahasiswa.

Sementara itu, area Kaliurang dan lereng Merapi lebih disukai orang yang ingin suasana adem dan dekat dengan alam. Meski beberapa titik di Jalan Kaliurang bawah cukup ramai karena dipenuhi kampus dan tempat nongkrong, semakin naik ke utara suasananya mulai berubah jadi lebih tenang.

Kulon Progo bahkan punya ritme hidup yang lebih lambat lagi. Beberapa orang memilih tinggal di sana karena ingin benar-benar jauh dari keramaian kota dan menikmati hidup yang lebih sederhana.

Muncul Tren Hidup Lebih Mandiri

Fenomena slow living di Jogja juga mulai melahirkan gaya hidup yang lebih mandiri. Ada orang yang mencoba berkebun kecil-kecilan, menanam kebutuhan dapur sendiri, memelihara ayam, atau membangun rumah sederhana di pinggiran kota.

Ini memang belum jadi tren besar, tetapi mulai terlihat di beberapa area rural-oriented seperti Bantul selatan atau Kulon Progo. Apalagi sejak kerja remote semakin umum, banyak orang merasa tidak harus tinggal dekat pusat kota untuk tetap bisa bekerja.

Karena itu, Jogja sekarang bukan cuma dilihat sebagai kota pelajar, tetapi juga tempat untuk membangun hidup yang terasa lebih pelan dan lebih dekat dengan kebutuhan dasar.

Tapi Slow Living di Jogja Juga Punya Tantangan

Meski terdengar ideal, hidup santai di Jogja tidak selalu mudah. Kota ini tetap punya tantangan sendiri, terutama soal ekonomi dan perubahan urban yang semakin cepat.

UMR Jogja relatif rendah dibanding kota besar lain. Di sisi lain, biaya hidup juga mulai naik, terutama di area yang berkembang cepat seperti Sleman dan sekitar kampus. Harga kos, kontrakan, kopi, sampai tanah meningkat cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini juga berkaitan dengan gentrifikasi dan semakin banyaknya pendatang yang memilih tinggal di Jogja. Akibatnya, beberapa kawasan yang dulu tenang perlahan berubah jadi lebih padat dan urban.

Karena itu, slow living di Jogja biasanya lebih cocok untuk orang yang punya pekerjaan fleksibel, kerja remote, atau memang memprioritaskan kualitas hidup dibanding ambisi karier yang terlalu agresif.

Jogja Menjadi Tempat “Kabur” dari Hidup yang Terlalu Cepat

Kalau diperhatikan, banyak orang yang datang ke Jogja sekarang sebenarnya bukan sedang mencari kota paling modern atau paling maju. Mereka justru mencari tempat yang tidak terlalu melelahkan.

Jogja menawarkan sesuatu yang mulai sulit ditemukan di kota besar: ritme hidup yang masih terasa cukup manusiawi.

Mungkin bukan berarti hidup di sini selalu mudah. Tapi setidaknya, banyak orang merasa mereka bisa hidup sedikit lebih pelan, lebih sadar, dan lebih menikmati kesehariannya.

Dan mungkin itu alasan kenapa semakin banyak orang yang awalnya hanya datang sementara akhirnya memilih menetap lebih lama di Jogja. Fenomena itu juga berkaitan dengan alasan banyak perantau akhirnya memilih tinggal di Jogja.

FAQ

Kenapa Jogja identik dengan slow living?

Karena ritme hidup di Jogja cenderung lebih santai, budaya sosialnya lebih cair, dan tekanan hidup terasa tidak seagresif kota besar.

Area slow living di Jogja yang paling populer di mana?

Bantul, Kaliurang bagian atas, dan Kulon Progo termasuk area yang sering dicari karena suasananya lebih tenang dan dekat dengan alam.

Apakah Jogja cocok untuk pekerja remote?

Cukup cocok karena biaya hidup relatif lebih ringan, banyak tempat kerja fleksibel, dan suasana hidup lebih santai.

Apakah slow living berarti tidak produktif?

Tidak. Slow living lebih tentang menjalani hidup dengan ritme yang lebih sehat dan sadar, bukan berhenti bekerja atau kehilangan ambisi.

Artikel Terkait

Tag:

  • Jogja
  • Yogyakarta
  • Tinggal di Jogja
  • Kehidupan Jogja
  • Kota Pelajar
  • Biaya Hidup Jogja
  • Anak Kos Jogja
  • Slow Living
  • Budaya Jogja
  • Jogja Sekarang